Cerita Dari Batch 2

2.1.2 Batch 2

Belajar dari pengalaman di gelombang pertama, kami kemudian merubah proses perekrutan peserta kelas Multimedia. Di gelombang kedua, kami melakukan dua tahap seleksi perekrutan. Pertama adalah seleksi administrasi. Di tahap ini, calon peserta diberikan formulir untuk mengisi beberapa pertanyaan penting seperti apakah merupakan mahasiswa aktif kuliah atau bukan. Bagaimana dengan jadwal kuliahnya hingga keterlibatan mereka di organisasi kepemudaan. Sisanya adalah pertanyaan yang agak bersifat personal seperti apakah sudah memiliki ikatan dengan pasangan atau tidak. Pertanyaan ini penting mengingat pada gelombang pertama kami menemukan kasus serupa. Ada seorang peserta yang sudah memiliki ikatan keluarga meski belum menikah secara resmi. Tidak jarang pasangan ini mesti melewati pertengkaran terlebih dahulu sebelum salah satunya yang adalah peserta datang ke tempat pelatihan. Selanjutnya kami akan memilih calon peserta yang merupakan mahasiswa aktif di kuliah dan organisasi, namun jadwal kuliahnya tidak bertabrakan dengan jadwal pelatihan.

Setelah penyaringan di tahap pertama, kami memanggil mereka yang lolos untuk mengikuti tahap wawancara. Pada tahap ini, calon peserta dikonfirmasi kembali mengenai jawaban yang ditulis di formulir. Setelah itu, kami meminta komitmen mereka agar dapat mengikuti pelatihan hingga selesai tanpa ada alpa satu hari pun.

Dari 22 calon peserta yang mendaftar, hanya ada 15 yang lolos di tahap pertama. Pada tahap wawancara kami hanya memilih sepuluh peserta saja berdasarkan ketersediaan unit komputer. Jadi, di tahap kedua ada lima calon peserta yang dinyatakan tidak lolos.

2.1.2.1 Hasil Evaluasi

Kami melakukan evaluasi secara paralel. Pertama, kami mengundang Trainer untuk berdiskusi dengan kami.  Di hari berikutnya kami melakukan diskusi secara terpisah dengan peserta. Dari hasil evaluasi tersebut, kami menemukan beberapa poin penting yang perlu dicatat. (raw data dalam bentuk Excell terlampir).

A. Kelas Multimedia

Menurut para Trainer, peserta Batch 2 memiliki dasar yang lebih baik dalam keterampilan penggunaan software edit video ketimbang peserta Batch 1. Hal ini membuat mereka tidak begitu sulit menyerap materi yang diberikan. Dengan demikian, secara keseluruhan terjadi perkembangan yang cukup pesat di kelas ini.

Setidaknya ada tiga tipe kategori peserta berdasarkan keaktifan mereka di kelas. Pertama, mereka yang paling aktif. Di antaranya adalah Kansius Kingga, Maria Goreti Kaimo dan Moses Ramsis Boi. Kedua, mereka yang keaktifannya rata-rata di kelas. Mereka adalah Ronaldo TitusTomkap Yamdong dan Birgita Didima Cewe. Ketiga, peserta yang kurang terlalu aktif di kelas. Marselus Yamkai adalah satu-satunya peserta yang tidak begitu aktif di kelas. Dia justru lebih aktif bertanya di luar kelas.

Selanjutnya untuk mengkonfirmasi feedback dari Trainer, kami telah melakukan evaluasi juga bersama peserta. Dari hasil evaluasi, sebagian besar feedback yang diberikan selaras dengan respon yang diberikan oleh peserta. Misalkan menurut trainer peserta yang paling aktif di kelas adalah Kansius, Maria dan Moses. Dari jawaban yang diberikan oleh mereka bertiga, dua di antaranya yakni Maria dan Moses mengaku tidak memiliki kendala sama sekali dalam mengikuti kelas. Sedangkan Kansius aktif bertanya mengingat materi multimedia merupakan hal baru untuk dia. Berbeda halnya dengan Ronald yang merupakan peserta dalam kategori rata-rata untuk keaktifannya dalam kelas. Ia masuk dalam kategori ini karena materi multimedia bukan hal baru sehingga ia tidak terlalu begitu banyak bertanya di dalam kelas. Sementara Bergita, Yohana dan Marselus merupakan tiga peserta yang agak kurang dalam menyerap materi yang diberikan. Menurut pengakuan Bergita, ia sedikit kesulitan dalam mengingat dan mengoperasikan tools yang ada. Yohana sering lupa materi yang telah diberikan. Lebih lanjut dalam catatan Trainer, ia juga sering mengalami distraksi hingga blank di dalam kelas. Dari observasi yang kami lakukan, Yohana adalah tipikal peserta yang introvert. Ini yang membuatnya kesulitan bertanya di dalam kelas. Meski demikian, ia sangat ekspresif di akun Facebooknya. Lain halnya dengan Marselus yang dalam beberapa sesi tidak hadir karena sakit. Kondisinya membuat ia cukup sulit untuk mengejar ketertinggalan materi. Namun demikian, ia masih memiliki semangat yang tinggi untuk tetap mengikuti kelas ini hingga selesai nanti di bulan Agustus.

B. Kelas Desain Grafis

Secara umum, perkembangan yang dialami oleh peserta berbeda satu dengan lainnya. Malahan ada sedikit gap di antara mereka. Misalkan menurut Trainer, peserta yang paling aktif dalam kelas dan nampak menunjukkan perkembangan yang signifikan hanya Ronald. Selain dia, ada tiga peserta lainnya yang juga aktif di dalam kelas. Mereka adalah Moses, Maria dan Kansius. Namun, hanya Maria dan Moses saja yang berada dalam kategori cukup berkembang di bawah Ronald. Yohana juga masuk dalam kategori ini meski ia tidak begitu aktif bertanya dalam kelas. Kansius dalam hal ini justru dimasukkan ke dalam kategori peserta yang kurang dalam kemampuan menyerap materi bersama dengan Bergita dan Marselus. Alasan inilah yang membuat Kansius tidak dikategorikan sebagai peserta yang berkembang meski aktif bertanya di kelas.

Ketika kami melakukan crosscheck kepada peserta terkait feedback yang diberikan oleh Trainer, sebagian besar jawaban mereka pun selaras. Hampir semua peserta mengalami kesulitan dalam mengoperasikan tools. Hal ini karena pembelajaran terhadap software desain grafis menjadi pengalaman baru bagi mereka. Pengecualian terjadi pada Moses di mana ia adalah peserta yang baru berlatih menggunakan software desain grafis namun menunjukkan perkembangan yang cukup signifikan.

C. Kelas MS Office

Dari kelas MS Office, ada dua peserta yang perkembangannya cukup signifikan, yaitu Ronald dan Maria. Sementara peserta yang perkembangannya rata-rata adalah Marselus dan Kansius. Moses, Yohana dan Bergita merupakan peserta yang belum mempunyai dasar keterampilan penggunaan software MS Office yang cukup sehingga mereka sedikit sulit untuk menyerap materi yang diberikan.

Selanjutnya, meskipun Ronald mengalami kemajuan signifikan dalam penguasaan materi MS Office, ia masih terkendala dalam hal mengetik secara cepat. Sedangkan Maria tidak mengalami kendala sama sekali. Hal yang sama dialami oleh Kansius dan Marselus yang perkembangannya rata-rata dalam penilaian Trainer. Marselus tidak mengalami kendala sama sekali, sedangkan Kansius dalam pengakuannya ia sedikit kesulitan dalam mengoperasikan tools di MS Word dan rumus-rumus di MS Excell. Terakhir, Moses mengaku bahwa ia baru mempelajari MS Office khususnya Excell sehingga ia sedikit terlambat dalam menyerap materi yang diberikan. Bergita meskipun telah mengenal MS Office, ia pun masih terkendala dalam menerima materi khususnya Excell. Yohana sendiri memiliki masalah yang sama dengan Ronald, yakni agak terlambat dalam hal mengetik.

Dari hasil evaluasi, kami mendapati bahwa Ronald merupakan peserta dengan perkembangan yang paling signifikan di semua kelas. Sedangkan Marselus, Bergita dan Yohana merupakan yang terbawah. Meski demikian, kami melihat bahwa Bergita dan Yohana memiliki semangat yang tinggi untuk belajar.

Dari kategori kelas favorit, Multimedia merupakan kelas yang paling menunjukkan kemajuan yang signifikan. Sedangkan kelas Office menjadi yang paling lamban mengingat rumus-rumus Excell yang belum familiar di antara peserta. Dengan membandingkan Batch 1, ada perubahan kategori kelas favorit yang sebelumnya dipegang oleh Kelas Desain Grafis.

2.2 Kelas Menjahit

Kelas Menjahit secara khusus dibuka untuk mama-mama Asmat dari kompleks Asmaro. Selama ini kami mencari jalan untuk bagaimana memberikan suatu pelatihan yang sekiranya mampu menstimulasi peningkatan pendapatan ekonomi rumah tangga mereka. Pertama kami mulai dengan penjualan bawang merah di bulan September 2020. Pada saat itu mama-mama berperan sebagai pengupas bawang saja. Setiap kilogramnya kami bayar seharga Rp.5.000,-. Nilai ini lebih tinggi Rp.3.500,- dari upah yang biasanya dibayar bagi pengupas bawang. Hanya saja kami mempertimbangkan bahwa mama-mama selamanya akan menjadi pengupas tanpa ada peningkatan keterampilan apapun. Apalagi mengingat pemeliharaan kualitas bawang membutuhkan ruangan khusus dengan pengalaman mumpuni, rasanya tidak mungkin untuk melibatkan mereka lebih banyak dalam pekerjaan ini selain hanya untuk mengupas bawang. Untuk itulah kami memutuskan mencari alternatif lain. Pernah sempat terbersit untuk meningkatkan kesejahteraan mereka melalui ekonomi berbasis agrikultur. Ketika melakukan survei secara langsung di tempat tinggal mereka, ternyata mereka tidak memiliki lahan yang lebih untuk sekedar berkebun.

Sebagai informasi, tanah yang saat ini Masyarakat Asmat dari kompleks Asmaro tinggal merupakan tanah milik salah satu mantan anggota DPRD Kab. Merauke, Almarhum Bapak Jorgen Betaubun. Berdasarkan penuturan masyarakat setempat, saat itu, beliau menjanjikan kepada mereka akan dipinjamkan lahan agar mereka bisa tempati jika ia lolos sebagai anggota DPRD Kab. Merauke. Beliau kemudian lolos dan mereka pun akhirnya tinggal di sana. Setelah lebih dari sepuluh tahun, jumlah mereka makin bertambah sehingga kebutuhan untuk membangun rumah bertambah juga. Hingga akhirnya lahan yang disediakan menjadi semakin sempit dan tidak tersedia lagi lahan lebih yang bisa difungsikan untuk berkebun. Bahkan saat ini masih ada dua hingga tiga rumah baru yang dibangun dengan mengambil lahan milik orang lain. Kabar baiknya adalah lahan yang saat ini diperluas merupakan milik seorang Pendeta yang selama ini kami pinjam gedung mereka sebagai ruang kelas sore bagi anak-anak komunitas Asmat Asmaro. Akan tetapi, perluasan lahan tempat tinggal mereka tidak hanya meluas ke wilayah gereja saja, tetapi juga ke lahan milik orang lain yang kebetulan bertetanggaan dengan mereka. Untuk kasus yang satu ini sudah beberapa kali terjadi ketegangan antara mereka dengan tetangga pemilik lahan hingga berujung konflik.

Bertolak dari situasi inilah yang membuat kami tidak memiliki peluang untuk mengembangkan usaha berbasis agrikultur di lingkungan sekitar tempat tinggal mereka. Akhirnya kami memutuskan untuk membuka kelas Menjahit sebagai solusinya. Memang, program ini bukan merupakan program baru di Papua. Sudah sejak jaman Belanda, Kelas Menjahit merupakan program andalan yang biasanya diberikan kepada anak perempuan Papua di masa itu. Kami mengambilnya kembali mengingat spesifikasi profil masyarakat kami yang merupakan Orang Asli Papua (OAP) yang saat ini sudah hidup setidaknya satu generasi di wilayah perkotaan. Tentu kebutuhan yang diperlukan dan tantangan yang dihadapi berbeda dengan OAP yang hidup di kampung-kampung. Profil OAP di kota khususnya masyarakat Asmat secara tradisional merupakan masyarakat peramu. Kebiasaan ini tidak berubah sejak generasi pertama mereka datang di tahun 80an dan 90an. Kami melihatnya sebagai sebuah stagnasi kultural akibat gagalnya adaptasi sosial ke dalam kehidupan perekonomian kota yang berbasis jasa. Kegagalan ini bisa dilacak dengan melihat beberapa indikator seperti banyaknya anak putus sekolah di antara komunitas Asmat, akses kepada layanan dasar pemerintah akibat tidak lengkapnya data-data administrasi kependudukan hingga pola hidup bersosial yang terkesan eksklusif di antara mereka yang membuat macetnya sirkulasi pengetahuan dan transfer keterampilan dari luar ke dalam komunitas mereka. Jadi secara umum, profil masyarakat Asmat yang berada di kota Merauke termasuk yang tinggal di kompleks Asmaro merupakan masyarakat peramu kota, yang hidup di lahan milik orang lain dengan fasilitas sanitasi yang buruk serta tingginya angka putus sekolah.

Kelas Menjahit dalam hal ini menjadi alternatif jawaban untuk mengatrol keterampilan mereka, khususnya mama-mama Asmat. Mereka adalah tiang ekonomi keluarga sehingga jika mereka bisa tersentuh dengan program pemberdayaan ekonomi, maka perbaikan ekonomi keluarga hingga komunitas secara keseluruhan bisa mengalami akselerasi lebih cepat. Kami berencana akan mengambil tiga hingga empat orang dari kelas Menjahit untuk bergabung ke dalam kelompok usaha Menjahit Batik Yayasan. Dengan demikian mereka akan menjadi contoh bagi mama-mama yang lain. Jumlah ini akan dipilih berdasarkan banyaknya peserta kelas yang sudah bisa menjahit.

Sejak awal dibuka, ada 10 peserta dari mama-mama Asmat yang ikut. Untuk proses perekrutannya kami menggunakan semacam Surat Komitmen yang mesti ditandatangani oleh pasangan suami-istri. Isinya adalah jaminan dari suami kepada kami bahwa istrinya boleh mengikuti kelas menjahit hingga selesai. Kami menyadari alur komunikasi di masyarakat dampingan kami memiliki pola komunikasi yang sangat patriarkis. Kami tidak ingin mengubahnya secara frontal. Jadi, dalam proses ini kami mesti melibatkan para suami dari calon peserta kami. Akhirnya, masing-masing pasangan sepakat dan kegiatan dimulai di bulan Februari 2020.

Dalam proses kegiatan kelas menjahit berjalan, tidak semua selalu hadir. Beberapa alasan yang sering dikemukakan adalah mereka mesti pergi mengupas bawang. Alasan lainnya adalah mereka mencari ikan di rawa atau di pantai. Selebihnya biasanya ada persoalan antara mereka dan para suami. Setelah kelas menjahit berjalan hingga tersisa satu bulan, sudah terlihat beberapa mama-mama yang keterampilannya cukup untuk direkrut sebagai tenaga penjahit. Di antaranya adalah Mama Odeta, Mama Yosefa dan Mama Monika. Secara absensi pun ketiganya yang paling rajin. Kemungkinan besar mereka inilah yang akan kami rekrut.

Dari segi usia, Mama-mama Asmat yang mengikuti kelas menjahit beragam usia. Ada empat wanita berusia sekitar 40 – 50 tahun. Mereka adalah Mama Katarina, Mama Yosefa, Mama Kornelia dan Mama Monika. Ada juga empat istri muda berusia sekitar 20 – 30 tahun. Mereka adalah Maria, Odeta, Kanisia dan Tedora. Maria dikecualikan karena dia berusia di bawah 20 tahun tetapi memiliki keluarga (suami dan anak). Ursula adalah anak bungsu di kelas menjahit yang baru saja menyelesaikan studinya di SMP.

Mama Katarina adalah yang tertua yang memiliki rambut botak. Saya bertemu dengannya tahun lalu ketika dia menyiapkan makanan untuk babinya. Sebagai perempuan tertua di antara perempuan, banyak pengalaman yang ia peroleh sebagai generasi pertama Asmatter yang datang ke Merauke sekitar tahun 80-an. Dia dan komunitasnya beberapa kali berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Ini adalah ketiga kalinya mereka pindah sebelum menetap di Asmaro. Pengetahuan spasialnya tentang ke mana harus pergi memancing, menanam sayuran atau mengumpulkan sampah di jalan-jalan tertentu sangat luar biasa di kalangan wanita Asmat. Dia menjadi salah satu pemimpin yang membimbing wanita Asmat melakukan gathering setiap hari.

Mama Yosefa bermasalah dengan suaminya. Dia alkoholik. Jika dia mabuk, dia membuat masalah besar dengan orang-orang di sekitarnya. Bahkan pergi berkelahi dengan istrinya. Mama Yosefa memutuskan untuk pindah dan tinggal bersama keluarganya di Transito daripada di Asmaro. Hal ini menyebabkan dia tidak bisa datang dengan kelompok ketika kelas dimulai. Taksi yang kami sewa hanya parkir di Asmaro, bukan di Transito. Oleh karena itu, mama Yosefa selalu berjalan kaki dari Transito ke Cemara (kantor dan pusat pelatihan kami). Dia selalu terlambat masuk kelas.

Mama Kornelia adalah yang paling cerdas dalam melakukan percakapan dengan orang lain. Setiap kali dia berbicara dengan orang lain, dia suka tersenyum. Seperti ibu yang dewasa, wanita dan istri. Suaminya adalah seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS). Anak-anaknya (Marten dan Markus) adalah siswa yang rajin di Kids Class. Marten dan Markus di usia mereka relatif mudah membujuk mereka mengikuti instruksi di kelas. Selain itu, mereka juga anak-anak yang baik kepada orang lain.

Mama Monika adalah wanita pendiam di kelas. Dia jarang berbicara dalam diskusi. Namun, dia adalah salah satu siswa yang rajin di kelas menjahit. Meskipun demikian, dia lambat dalam belajar menjahit.

Selanjutnya, Maria, Odeta, Kanisia dan Tedora adalah istri muda. Maria punya satu anak. Odeta dan Kanisia memiliki dua dan Tedora memiliki satu. Salah satu alasan masih adanya ketidakdewasaan dalam bergaul di kalangan masyarakat Asmat yang tinggal di Merauke adalah rasa aman diri. Dalam masyarakat yang sangat komunal yang tinggal di kawasan kumuh, hampir tidak ada ruang privat.

Salah satu yang signifikan yang menggambarkan sifat individu adalah pakaian yang mereka kenakan. Bahkan untuk kamar tidur, jarang ditemukan kamar yang lebih baik yang dipisahkan oleh dinding yang rapat. Satu rumah tidak hanya terdiri dari beberapa keluarga tetapi juga menyatu dalam penggunaan barang sehari-hari.

Anak-anak tumbuh tanpa tempat yang aman ketika terjadi konflik dalam keluarga atau antar keluarga dalam satu rumah. Gadis-gadis muda yang sedang tumbuh dalam beberapa kasus tidak aman dari pelecehan seksual dari pria yang lebih tua. Sayangnya, solusi dari masalah ini adalah mencari anak ‘baik’ lain yang bisa menyelamatkannya dari situasi buruk ini.

Selama seorang gadis muda bebas atau tidak bertunangan, dia menjadi dambaan para pria. Situasi ini menjadi lebih buruk ketika beberapa pria yang lebih tua mabuk. Terkadang berdasarkan pengalaman saya, jika seseorang mabuk, orang membiarkannya melakukan apa saja yang dia ingin lakukan selama dia tidak mengancam seseorang.

Masalahnya, mabuk adalah masalah pribadi. Selama pemabuk tidak merugikan seluruh masyarakat, dia bisa melakukan semua yang dia inginkan. Ketika dia berkelahi dengan seseorang dalam suatu komunitas, itu akan menjadi masalah pribadi antara si pemabuk dan korbannya. Kecuali jika pemabuk berkelahi dengan seseorang di luar komunitasnya, itu akan menjadi masalah keseluruhan. Dari pengalaman ini, saya tahu bahwa gadis-gadis muda hanya memiliki pilihan untuk merasakan aman jika dia memiliki seseorang yang menutupinya.

Bertunangan dengan laki-laki lain yang lebih tua adalah satu-satunya cara yang disediakan oleh masyarakat yang hidup dalam komunitas yang erat seperti Komunitas Asmat. Saya ingat Desember 2020 lalu ketika Selly (seorang suami muda) meminta saya untuk membawa istri dan anak-anaknya ke gereja (gedung yang kami gunakan untuk Kelas Anak di dekat rumah mereka) di malam Tahun Baru. Dia mendapat kontrak untuk berlayar di kapal ikan saat itu selama 4 bulan.

Dia khawatir tentang orang-orang mabuk. Dia mengatakan kepada saya sesuatu yang terburuk bisa terjadi jika keluarganya tidak tinggal di tempat yang aman di malam hari. Saya tanya ancaman apa tapi dia menghindar untuk menjawab. Namun, bukan sekali dua kali cerita di mana pria mabuk menjadi ancaman nyata bagi wanita dan anak-anak. Apalagi jika sang suami tidak ada.

Odeta adalah peserta yang paling pintar di antara mereka dalam kelas menjahit. Dia juga rajin. Namun terkadang dia tidak muncul karena harus pergi mengupas bawang. Masalah selalu datang dari suaminya, Firgil. Cerita dimulai dari sini. Dia adalah salah satu orang yang dekat dengan kita, PMS. Saya membawanya dekat dengan kami karena dia tidak tahu mengkonsumsi alkohol. Sekedar informasi, hanya tiga pria yang tidak mengonsumsi alkohol, Firgil, Selly dan Edi.

Saya selalu memintanya untuk bekerja di kebun. Bahkan dialah yang memberi makan babi kami. Mungkin karena hubungan kita, dia menjadi tergantung pada kita pada level tertentu. Terkadang ketika saya tidak dapat memenuhi kebutuhannya, dia akan menyuruh istrinya, Odeta untuk tidak ikut kelas menjahit. Bahkan ketika Odeta telah mempersiapkan diri, dia akan mengatakan kata-kata ancaman kepada Odeta.

Kudengar mereka pernah bertengkar hanya karena Odeta lebih suka pergi ke kelas menjahit saat Firgil punya masalah dengan kita. Terakhir kali Firgil mencegahnya pergi ke kelas menjahit karena saya tidak membantunya menemukan tempat tinggal baru untuknya dan keluarganya. Dia memiliki masalah dengan keluarga lain yang tinggal bersama dengan dia di rumah yang sama.

Tapi dia tidak memberi tahu saya dengan jelas apa masalahnya. Sekedar informasi, mereka tinggal di sebuah rumah yang terdiri dari empat keluarga. Pada Januari lalu mereka membangun kembali rumah mereka karena yang lama rusak oleh pohon kelapa yang tumbang. Bersama keluarga lain, mereka mengumpulkan uang dan kayu untuk membangunnya kembali.

Tetapi kemudian saya tahu bahwa keluarga lain tidak menyukai dia dan istrinya. Saya mendengar dari dia, kadang-kadang dia berselisih dengan pemuda lain ketika mereka mabuk.

Maria adalah istri termuda. Usianya di bawah 20 tahun. Kami belum terlalu mengenalnya. Tapi dia juga selalu muncul. Menurut pelatih Mama Nona, dia adalah calon mahasiswa ketika kelas ini disulap menjadi sebuah unit usaha.

Tedora masih muda dan penuh energi. Bersama suaminya, mereka adalah pelopor yang menabung di Credit Union (CU). Beberapa anggota komunitas mengikuti jejak mereka. Saat ini ada 12 anggota komunitas yang tergabung dalam CU. Dia rata-rata di kelas menjahit.

Ursula adalah yang termuda. Ia baru saja menyelesaikan studinya di SMP Satu Atap Wasur, sekolah terpadu khusus pemuda Papua. Sekarang dia sedang bersiap untuk pergi ke SMA. Kami akan menjaganya dan membantunya untuk tetap bersekolah. Menurut Mama Nona, dia juga potensial meski perlu banyak belajar. Sebenarnya, dia menggantikan ibunya yang tidak ikut kelas menjahit lagi.

2.3 Kelas Wirausaha

Kelas Wirausaha dirancang untuk mendorong semangat anak-anak mahasiswa Papua di Merauke dalam berwirausaha. Mereka diajak untuk mengeksplorasi ide-ide agar bisa dieksekusi menjadi usaha. Memang secara antropologis orang Papua bukan masyarakat pedagang kecuali di beberapa suku di bagian pegunungan tengah dan Boven Digoel yang sejak lama ditemukan adanya aktivitas ‘dagang’ yang bersifat tradisional dan dalam skala kecil. Perubahan aktivitas ekonomi yang didorong oleh proses urbanisasi memaksa orang Papua untuk mencari sumur-sumur ekonomi lain diluar sumber-sumber tradisional seperti PNS. Persoalannya adalah budaya dagang sejak perjumpaan orang Papua dengan masyarakat luar belum terinstal dengan baik dalam keseharian mereka. Hal ini berbeda dengan kelompok BBM (Bugis, Buton dan Makassar) yang budaya dagang telah mendarah daging.

Hambatan kultural ini kami temui di kelas ketika mengajak peserta untuk berpikir tentang ide bisnis kecil. Apalagi kewirausahaan bukan sekedar profesi, melainkan seperangkat karakteristik, nilai-nilai dan tujuan yang menubuh di dalam diri seseorang. Memberikan teori tidaklah cukup sebab melibatkan perubahan cara pandang, perilaku, kebiasaan hingga perlengkapan keterampilan yang mesti dimiliki. Waktu tiga bulan setiap gelombang cukup untuk materi dasar. Namun, untuk pendampingan butuh waktu beberapa tahun hingga benar-benar terbangun dasar-dasar bisnis yang dieksekusi.

2.3.2 Batch 2

Di Batch 2 ada lima peserta. Hingga saat ini kami sudah mengadakan tiga pertemuan. Di awal pertemuan kami memberikan formulir pre-test dan menanyakan perihal alasan mengikuti kelas Wirausaha. Semuanya mengemukakan alasan mereka untuk mengembangkan usaha yang diminatinya. Di antaranya adalah usaha peternakan ayam, pertanian dan distribusi barang. Di dua pertemuan berikutnya, mereka dibekali landasan konsep dan karakteristik seorang wirausaha. Di pertemuan terakhir dengan peserta, mereka diberikan tugas untuk menulis daftar masalah-masalah yang berkenaan dengan kehidupan keseharian mereka. Dari daftar masalah ini diharapkan dapat dicarikan solusinya ke dalam wujud ide usaha.

Hingga akhir pertemuan, kami hanya menemukan satu peserta saja yang serius untuk menerjemahkan idenya sebagai satu usaha. Dia adalah Elizabeth yang berencana untuk mengembangkan usaha penjualan Hair Extension. Faktor utama yang mendorongnya untuk menjual produk tersebut adalah karena tingginya permintaan di antara para perempuan Papua di Merauke dan kabupaten sekitarnya. Sebagai informasi, secara genetik rambut perempuan Papua (khususnya yang berasal dari suku-suku di Selatan seperti Merauke, Boven Digoel, Mappi dan Asmat) tergolong pendek.

Di pertemuan terakhir, Elizabeth sudah membuat logo beserta perencanaan usahanya setelah mendapat materi di minggu ketiga bulan Agustus. Ketika melihat keseriusannya, kami memutuskan untuk memasukkannya ke dalam salah satu daftar peserta yang akan didampingi untuk menginkubasi usahanya. Alasan lainnya adalah modal yang dibutuhkan untuk memulai usahanya tergolong kecil.

2.4 Kelas Literasi
Kelas Literasi sengaja dibuka dengan alasan bahwa banyak anak muda Papua yang minatnya rendah dalam hal baca dan tulis. Bahkan untuk ukuran mahasiswa tugas akhir sekalipun, sebagian besar dari mereka masih mengalami kesulitan menuangkan konsep maupun gagasannya secara terstruktur dan sistematis. Apalagi dengan memolesnya menggunakan gaya bahasa, masih terlalu jauh untuk hal demikian. Dari pengalaman kami menemani anak-anak mahasiswa selama ini, banyak dari mereka mengalami kesulitan menulis sejak berada di bangku SMP dan SMA. Dengan lemahnya budaya literasi di tempat tinggal mereka sebelumnya turut menyumbang kemandekan kemampuan dasar seperti membaca dan menulis. Hal ini selanjutnya berimbas pada kesulitan dalam mencerna berbagai pemikiran yang ada dalam buku-buku yang dijumpai selama masa perkuliahan mereka. Termasuk dalam menangkap makna-makna tersirat dalam ragam cerita pendek maupun novel. Keseluruhan faktor ini bermuara pada lemahnya aktivitas berpikir yang logis dan sistematis sehingga pada akhirnya menyulitkan pada saat menuangkannya dalam sebuah tulisan.

Berangkat dari runyamnya isu literasi yang melekat pada anak-anak muda Papua di kota Merauke, materi kelas ini dirancang agar peserta lebih didorong untuk bisa menulis. Berbagai isu dan materi diberikan untuk memperkaya bekal berpikir dan kekayaan kosa kata dalam menulis. Di antaranya adalah tema Media, perkembangan dan pengaruhnya dalam kehidupan keseharian anak muda Papua, isu tentang identitas, gender hingga budaya siber melalui media sosial.

Grafik 2.4 Hasil Pre-Test Kelas Literasi Batch I

Dari grafik hasil pre-test di atas, setengah lebih dari jumlah peserta kelas Literasi gelombang pertama hobi membaca. Untuk genre buku yang dibaca lebih banyak buku tertentu saja. Hal ini mengindikasikan ketertarikan membaca peserta hanya pada buku-buku yang sekiranya mendukung kegiatan perkuliahan mereka. Apalagi ketika dikonfirmasi terkait aktivitas ini, mereka tidak selalu menghabiskan buku yang pernah dibaca. Dengan kondisi demikian, perbendaharaan kata maupun kalimat masih tergolong sedikit yang membuat mereka kesulitan dalam menulis. Di sisi lain yang berhubungan dengan aktivitas liiterasi seperti kegiatan diskusi ilmiah maupun bedah buku pun bisa dikatakan jarang diikuti. Dengan demikian, situasi ini menggambarkan akumulasi faktor yang menyebabkan masih rendahnya budaya literasi di kalangan anak muda Papua.

Memang hingga saat ini, sebagian besar peserta masih berproses dalam hal belajar menulis dengan baik. Hanya ada satu atau dua peserta saja yang sudah menunjukkan perkembangan yang cukup menggembirakan. Mereka adalah Jerry dan Januarius. Sisanya masih perlu dibimbing berulang kali agar bisa menuangkan pemikiran mereka ke dalam tulisan yang benar secara gramatika serta enak dibaca.

Sejak kelas ini dibuka, ada sekitar 10 peserta yang mendaftar. Hingga beberapa bulan kemudian, peserta yang aktif tersisa 6 orang. Meski demikian, beberapa simpatisan yang bergabung di kemudian hari bertambah. Setidaknya hingga saat ini ada empat simpatisan aktif yang sering mengikuti kelas Literasi. Meski mereka tidak ikut menandatangani absensi kehadiran, mereka sangat antusias dalam mengikuti kelas. Besar kemungkinan karena mereka ini adalah mahasiswa tingkat akhir yang mengalami kesulitan dalam penulisan skripsi. Dengan kehadiran mereka, maka sebagian besar peserta kelas Literasi saat ini adalah mahasiswa tingkat akhir. Setelah melihat komposisi peserta dengan kebutuhan yang lebih spesifik, maka kami memutuskan untuk lebih fokus pada pelatihan menulis intensif. Jadi, kelas Literasi dimodifikasi sedemikian rupa menjadi semacam tempat workshop tugas akhir atau ruang bimbingan di luar kampus. Hal ini cukup membantu peserta setelah dua bulan berjalan. Sebagian dari mereka merasa terbimbing dalam hal menulis maupun konsultasi terkait pengumpulan data, metode penelitian maupun referensi yang mesti ada dalam penulisan skripsi mereka.
Untuk tugas besarnya sendiri adalah membuat sebuah tulisan berbentuk artikel yang nantinya akan dipublikasi melalui media lokal. Jika tulisan peserta cukup bagus dan beragam, opsi untuk membuat semacam kumpulan tulisan menjadi sebuah buku menjadi pilihannya. Beberapa tema yang dekat dengan persoalan sehari-hari anak-anak muda Papua antara lain mengenai isu Lingkungan dan Budaya Papua, Isu Perempuan dan Adat (Papua) serta isu yang lebih kontemporer seperti Aktivitas anak milenial di media sosial Tik-Tok.

Hingga saat ini, proses penulisan masih tetap berjalan meski kemajuan yang dicapai belum maksimal. Hanya ada dua peserta yang perkembangan penulisan terkait tema yang diberikan cukup bagus. Mereka adalah Yanuarius Baweng yang menulis tentang isu Lingkungan & Budaya (Papua) serta Jerry Koagup yang menulis tentang Isu Perempuan & Adat (Papua).
Sampai berakhirnya kelas literasi, peserta masih terus belajar untuk menulis kalimat, merangkainya menjadi sebuah paragraf dan membentuknya menjadi narasi utuh. Dari hasil kebersamaan mereka di dalam kelas ini selama kurang lebih enam bulan, kami menemukan bahwa persoalan literasi anak Papua terletak pada kurangnya perbendaharaan kata yang dibutuhkan di saat ingin mengekspresikan perasaan maupun pikiran mereka. Sementara dari sisi penalaran belum terlalu menunjukkan kemajuan yang signifikan. Kami melihat bahwa faktor ini sangat terkait dengan rendahnya minat baca di kalangan peserta kelas ini sehingga mereka tidak memiliki cukup referensi dari beragam literatur yang otoritatif untuk melakukan analisa yang relatif komprehensif dan multi perspektif.

Dengan demikian, tugas akhir yang dikerjakan belum mencapai standar yang cukup untuk dipublikasikan ke media. Butuh waktu yang lebih lama untuk melatih mereka agar mampu menulis dengan baik dan benar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *