Apa Itu Program “Membangun Pemuda Membangun Papua” Dan Mengapa Penting Bagi Anak Muda?

PAPUA MANDIRI – Program “Membangun Pemuda Membangun Papua” merupakan wujud upaya meningkatkan kapasitas anak muda Papua agar mampu berdampak secara nyata dalam kehidupan sehari-hari. Program ini sebenarnya merupakan bagian dari projek Kopernik – Papua Mandiri yang dimulai di awal tahun 2021. Saat itu, kami menjadi salah satu yang terpilih untuk berkolaborasi dengan Kopernik untuk menyelenggarakan program ini. Selepas program singkat ini usai di Agustus 2021 bersama Kopernik, kami lantas tidak menutupnya. Malahan kami mengembangkannya dari yang sejak awal hanya lima kelas (MS. Office, Desain Grafis, Multimedia, Wirausaha dan Kelas Literasi) menjadi sembilan kelas di tahun 2022. Empat kelas tambahan yang kami buka antara lain adalah Kelas Desain Web, Kelas Auto CAD, Kelas Bahasa Inggris dan Kelas Public Speaking. Hal ini kami lakukan mengingat tingginya antusias anak muda Papua yang ingin meningkatkan softskill mereka di ke-enam bidang tersebut.

Sasaran utama dari program ini merupakan anak muda baik Papua maupun non-Papua entah yang sedang duduk di bangku sekolah atau perkuliahan termasuk yang sedang bekerja maupun yang sedang mencari pekerjaan di wilayah kota Merauke. Hingga memasuki Batch 7, sebagian besar peserta kami merupakan anak muda yang berasal dari Mappi, Boven Digoel, Asmat, Kimaam dan wilayah kota Merauke sendiri. Bahkan ada juga yang berasal dari Wamena, Tolikara, Yahukimo, Lanny Jaya, Oksibil dan Paniai. Mereka ini adalah mahasiswa yang sengaja datang ke Merauke untuk berkuliah.

Keputusan kami untuk membuka Kelas Komputer pun tidak lepas dari fakta sosio-kultural yang kami observasi dan alami selama ini. Perjumpaan anak muda dengan kehidupan ‘kota’ Merauke sedikit banyak membuka mata mereka untuk melihat berbagai peluang maupun masalah yang selama ini tidak disadari ketika mereka masih berada di kampung atau distrik (sebagian peserta kami datang dari wilayah setingkat distrik maupun kampung). Meski demikian, turbulensi kultural sering terjadi di dua tahun pertama sejak kedatangan mereka di Merauke. Jika mereka bertemu dengan komunitas yang baik, biasanya mereka akan melewati tahun-tahun kuliah dengan banyak pengalaman berharga seperti organisasi, olahraga ataupun juga prestasi akademik yang bagus.

Namun, jika mereka bertemu dengan komunitas atau kelompok anak muda lain yang memiliki kebiasaan destruktif, biasanya mereka akan mengalami kesulitan dalam melanjutkan studi. Ada yang kemudian hidup terkatung-katung di Merauke tanpa tujuan yang jelas. Ada pula yang akhirnya memutuskan untuk kembali ke kampungnya. Sebagian kecil dari mereka yang bisa menyelesaikan perkuliahan hingga akhir sering pulang ke kampung tanpa bekal soft skill yang memadai. Hal ini berdasarkan pengalaman kami, setibanya di kampung mereka sulit untuk menjadi agen perubahan. Kurang inisiatif dan kreativitas ditambah dengan tidak adanya soft skill membuat mereka akhirnya menjadi kelompok usia produktif yang pasif. Bahkan beberapa kepala kampung dan kepala distrik yang kami temui mengeluhkan hal ini. Anak-anak muda Papua baik yang berkuliah hingga selesai maupun yang putus kuliah lalu kembali ke kampung akhirnya tidak bisa ‘dipakai’ karena mereka tidak mampu mengoperasikan komputer. Sebagai contoh mengolah data menggunakan software Excel untuk tujuan laporan Dana Kampung atau kerja administrasi di kantor Distrik.

Berangkat dari pengalaman bertahun-tahun dengan situasi inilah, Kelas Komputer (ditambah Kelas Bahasa Inggris) sengaja dibuka dan dirancang untuk memperlengkapi soft skill anak muda Papua agar nantinya ketika mereka kembali ke kampung, mereka bisa diberdayakan di kantor distrik maupun sebagai rekan kerja kepala kampung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *