Ini Skill Yang Paling Dicari Di Kota Merauke & Alasan Anak Papua Jarang Bekerja Di Sektor Swasta
PAPUA MANDIRI – Beberapa waktu lalu, Divisi Riset dan Pengembangan (R&D) Papua Mandiri melakukan riset mengenai skill apa yang paling dicari pasar tenaga kerja di kota Merauke. Dalam riset ini, kami telah mensurvey 12 responden yang berasal dari latar belakang instansi pemerintah, lembaga non-profit, Toko, Hotel, Perusahaan maupun Akademisi. Ada tiga pertanyaan utama yang kami sodorkan kepada mereka. Pertama, Skill apa saja yang paling dibutuhkan untuk bekerja?. Kedua, Karakter apa yang paling dicari untuk mendukung performa kerja?. Ketiga, Mengapa anak Papua jarang ditemui di tempat kerja?

Hasil riset ini menyebutkan bahwa skill mengoperasikan Excel dan Desain Grafis adalah yang paling dicari oleh dunia kerja di kota Merauke. Alasannya adalah Excel merupakan softskill untuk mengelola data, menganalisa data hingga mengeluarkan output data yang nantinya diperlukan untuk pengambilan keputusan selanjutnya. Di sisi lain, Desain Grafis dalam beberapa tahun belakangan menjadi softskill paling laris diburu pemilik kerja karena saat ini kita memasuki era visual berbasis digital (digital visual). Hampir semua aktivitas manusia saat ini telah terdokumentasi secara visual serta diarsipkan dan dipublikasikan melalui saluran platform media sosial seperti Instagram, Tik-Tok, Facebook dan Youtube. Dengan demikian, komunikasi publik secara visual menjadi skill yang sangat penting saat ini.
Selanjutnya, beberapa karakter utama yang paling diinginkan harus dimiliki oleh calon pekerja adalah kejujuran, disiplin dan keuletan. Menurut para responden (baca : pemilik pekerjaan), skill yang tinggi saja tidak cukup. Seorang calon pekerja harus memiliki etos kerja yang tinggi dan jujur dalam bertindak. Hal ini karena dunia kerja merupakan dunia di mana kepercayaan menjadi nilai utama. Untuk membangun kepercayaan, seorang calon pekerja mesti menunjukkan bahwa ia bisa disiplin waktu, ulet dan mau belajar terus serta tidak terlibat dalam manipulasi pekerjaan yang berkaitan dengan keuangan.
Setelah kedua pertanyaan ini dijawab dengan baik oleh para responden, kami selanjutnya bertanya bagaimana dengan anak Papua. Apakah mereka memiliki kriteria yang dicari?. Apakah ada banyak anak Papua yang diterima kerja di tempat mereka?. Hasilnya adalah kami menemukan ada beberapa hal penting yang patut digaris bawahi. Antara lain, rendahnya jumlah tenaga kerja anak muda Papua di sektor swasta karena tidak banyak dari mereka yang melamar. Padahal sektor swasta menyediakan lebih banyak lapangan kerja dibanding sektor pemerintah. Kami lantas menanyai beberapa anak Papua terkait hal ini. Jawaban yang diberikan adalah karena sebagian besar anak muda Papua tidak melihat masa depan yang terjamin di sektor swasta. Mereka lebih cenderung memilih melamar sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) karena dijamin oleh Pemerintah hingga masa tua. Di sisi lain, pekerjaan swasta masih dianggap ‘belum bekerja’ karena belum ‘berseragam’. Pola pikir ‘bekerja‘ harus ‘berseragam‘ ini lantas membentuk pilihan anak muda Papua yang menganggap bahwa pekerjaan di toko maupun di swasta lainnya lebih rendah dibanding pekerjaan di kantor yang ada seragamnya.
Jika ditilik secara sosio-historis, pola pikir seperti ini merupakan warisan paradigma kolonial yang kemudian berlanjut di era Fordism. Pada masa kolonial, kelompok pribumi yang bekerja pada pemerintah jajahan mendapat seragam. Sedangkan pribumi yang bukan pegawai pemerintah kolonial namun tetap bekerja untuk mereka tidak mendapat seragam. Perbedaan mencolok pada busana pakaian kerja inilah yang kemudian membentuk kelas baru dari kelompok pribumi yang elitis. Paska-Kolonialisme, muncul satu corak manajemen tenaga kerja yang dikenal dengan Manajemen ala Fordism. Singkatnya, di era ini, pasar tenaga kerja belum mengenal outsourcing atau pekerja kontrakan.

Siapapun yang berhasil masuk bekerja di suatu perusahaan otomatis menjadi pekerja tetap dan akan mendapat tunjangan setelah pensiun nanti dan tentunya seragam kerja yang mencolok. Model seperti ini persis meniru gaya manajemen kerja Pemerintahan. Akan tetapi pola seperti ini tidak bertahan lama setelah krisis keuangan di AS akibat biaya perang yang membengkak di Vietnam pada tahun 70an. Krisis ini kemudian memaksa AS mengeluarkan kebijakan moneter yang melepas Dollar AS menjadi mata uang mengambang (floating currency) setelah sebelumnya dipatok senilai ons Emas. Alhasil, banyak perusahaan di AS dan selanjutnya di seluruh dunia menyesuaikan perubahan dramatis ini. Perusahaan tidak lagi bisa memprediksi dengan pasti berapa keuntungan mereka pada 10, 20, 50 atau 100 tahun mendatang. Akibat ketidakpastian ini, perusahaan tidak berani menjamin semua pekerjanya akan mendapat keuntungan seperti di era Fordism. Untuk itulah, pola Pekerja Kontrakan (Outsourcing) diadopsi sebagai bagian dari penyelamatan perusahaan.
Hingga saat ini, di seluruh dunia perusahaan swasta masih menggunakan pola tersebut. Bahkan di instansi pemerintahan pun ada model seperti ini yang sering dikenal dengan sebutan Honda (Honor Daerah) atau TeKo (Tenaga Kontrak). Mungkin, inilah yang menjadi warisan pola pikir sebagian besar masyarakat sejak era Fordism (1910an – 1920an) berlanjut di era Kolonialisme dan Paska Krisis Moneter besar AS tahun 70an hingga sekarang. Lebih aman bekerja pada pemerintah karena ada jaminan setelah pensiun dibanding bekerja di sektor swasta apalagi pekerjaan yang informal.

Lebih lanjut, akibat rendahnya jumlah calon pekerja anak muda Papua di sektor swasta, maka lowongan ini pun kemudian banyak diisi oleh anak muda lainnya yang datang dari luar Papua. Dengan sedikit tekad pantang pulang sebelum sukses, biasanya anak-anak muda dari luar Papua mau tidak mau membetahkan diri untuk bekerja sehingga pada akhirnya mereka mencapai posisi yang cukup penting di tempat kerja mereka. Situasi ini berbanding terbalik dengan anak muda Papua yang preferensi pekerjaan mereka lebih banyak menunggu penerimaan ASN. Tidak heran, jika saat ini kita melihat lebih banyak anak muda non-Papua yang bekerja di toko, hotel maupun di sektor swasta lainnya. “Ada juga anak muda Papua yang kami terima bekerja di tempat kami. Akan tetapi, belum lama bekerja sudah keluar”, salah seorang respon kami menjelaskan. “Mereka belum terbiasa dengan pola dan ritme waktu kerja sehingga mereka kadang tidak betah lalu keluar”, tambahnya. Beberapa pengalaman seperti ini juga membuat pemilik usaha menjadi cukup selektif dalam menerima anak muda Papua untuk bekerja. Kombinasi dari rendahnya tingkat melamar kerja anak muda Papua di sektor swasta dan sejumlah jejak pengalaman mereka yang pernah diterima seperti ini membuat masyarakat berpikir bahwa pemilik usaha tidak adil dalam melakukan perekrutan tenaga kerja OAP. Padahal, jika mau dilihat secara mendalam dan menyeluruh ada hal-hal yang sangat krusial yang perlu diangkat ke permukaan terlebih dahulu dan dianalisa. Setelah itu barulah dibuat semacam kerangka acuan untuk pengambilan kebijakan selanjutnya dalam rangka menyelesaikan persoalan tersebut.
Meski demikian, tidak berarti tidak ada sama sekali anak Papua yang memiliki kinerja yang baik. Sebagai contoh berdasarkan observasi langsung kami ada Hotel dan Resto yang sebagian besarnya mempekerjakan anak muda Papua. Seperti Hotel Ermasu dan Sunny Day Inn serta Resto Mandala. Menurut pemiliknya, mereka ini diberi kesempatan untuk mengembangkan diri mereka, melatih disiplin diri dan bertanggung jawab terhadap pekerjaan yang diberikan. Beberapa di antaranya memiliki hasil kinerja yang memuaskan.

Dari pemaparan di atas, akhirnya kami menyimpulkan bahwa perlu ada pembinaan khusus untuk anak-anak Asli Papua usia produktif sebelum terjun ke dunia kerja. Pembinaan tersebut tidak hanya meliputi peningkatan keterampilan kerja saja tetapi juga pengembangan karakter yang sesuai dengan tuntutan dunia kerja. Selain itu juga, perlu adanya perluasan pandangan dan pola pikir tentang gambaran seorang pekerja yang tidak melulu soal seragam. Namun yang lebih penting adalah konsistensi membangun karir di manapun tempat kita bekerja. Dengan begini, anak muda Papua kemungkinan bisa berpikir melampaui zona nyaman mereka sehingga mampu melihat peluang-peluang lainnya di luar apa yang selama ini terbersit di pikiran mereka. Salah satunya adalah mencoba untuk menjadi seorang Entreprenuer….(berlanjut).
(Data diolah oleh Divisi Riset dan Pengembangan Yayasan Papua Mandiri Sentosa)


Menarik sekali ini! 👍👍👍
Saya kagum, apakah ke depan saya bisa mengutip hasil² riset sebagai referensi sumber tulisan kawan²?
Halo Kak Wanto, silahkan pakai hasil riset kami sebagai referensi…Terima kasih…Salam Papua Mandiri