Cerita Dari Batch 3

PAPUA MANDIRI – Tak bisa dipungkiri bahwa saat ini kemampuan terkait penguasaan komputer telah menjadi hal penting dan mutlak bagi semua kalangan, tak terkecuali generasi muda Papua. Untuk itulah Program Literasi Komputer sudah semestinya dikedepankan guna mempersiapkan generasi muda Papua yang kreatif, inovatif serta adaptif. Penguasaan komputer sendiri pada akhirnya akan bersentuhan langsung dengan dunia kerja baik pada level pemerintahan maupun non-pemerintah seperti Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Social-Entrepreneur dan seterusnya. Sebab itu, untuk mempersiapkan generasi muda Papua yang literat dengan komputer ini dibutuhkan kerja-kerja nyata yang terencana dan berkesinambungan, di Papua.

Kami meyakini bahwa kemajuan suatu daerah selalu tidak bergerak sendiri, ia justru ‘digerakan’ oleh kualitas sumber daya manusia yang telah ‘diinvestasikan’ sejak dini. Untuk itu, pemerintah melalui BPSDM Provinsi Papua telah mengalokasikan anggaran pendidikan sebesar 30 persen (otsus tahap I) yang mestinya cukup untuk menjawab problem pendidikan tersebut. Kenyataanya, kondisi pendidikan di Papua hingga saat ini masih jauh dari kata layak. Misalnya saja perkara baca tulis hitung (Calistung) yang sampai sekarang masih menjadi masalah serius di Papua. Kondisi ini tentu saja menjadi tantangan tersendiri bagi Pemerintah Daerah maupun praktisi pendidikan di Papua  pada umumnya. Situasi inilah yang kemudian menjadi alasan utama kami untuk membantu masyarakat dan Pemerintah Kabupaten (Merauke) dengan membuka Kelas Pendampingan Komputer dan mencetuskan Lembaga Pelatihan Keterampilan (LPK) yang bekerja sama dengan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Merauke. Kerja sama ini dimaksudkan agar peserta LPK yang kami dampingi dapat mengaplikasikan skill komputer mereka di dunia kerja secara mumpuni. Di samping itu, kami juga memberikan sertifikat kepada para peserta LPK usai mengikuti Kelas Komputer sehingga dapat mendukung mereka kelak dalam dunia kerja di mana pun mereka tinggal.

Sejak Februari 2021, kami telah membuka Kelas Komputer yang kemudian kami bagi ke dalam tiga periode pelaksanaan; Februari- Mei (Batch I), Juni-Agustus (Batch II) dan September-Desember 2021 (Batch III). Selain itu, kami juga membuka Kelas Reguler dengan skema pendaftaran yang sedikit berbeda dari kelas sebelumnya (Batch I-III), di mana peserta perlu membayar uang registrasi terlebih dahulu sesuai dengan kelas yang mereka pilih. Secara teknis, keduanya sama-sama berfokus pada aspek pengembangan Literasi Komputer. Mengutip adagium sederhana warga Papua; “memandirikan diri sendiri saja ko tidak bisa, bagaimana mungkin ko bisa memandirikan orang lain?.” Peribahasa yang seolah sinikal secara makna, namun persis di situlah tujuan LPK ini didirikan untuk menopang keberlanjutan Yayasan dalam hal finansial. Ke depannya, LPK yang sengaja kami rancang sebagai Inkubator Bisnis lembaga ini, pada akhirnya akan mendukung operasional Yayasan Papua Mandiri Sentosa. Oleh karena itu, di samping kerja-kerja sosial dan pendampingan masyarakat yang kami lakukan, kemandirian finansial lembaga adalah satu hal yang tetap kami perhatikan untuk mewujud-nyatakan generasi muda Papua yang mandiri di Tahun 2050 mendatang.

Meskipun tidak semua, ketika kami memulai Kelas Komputer Batch I pada periode Februari 2021 yang lalu, kami melihat antusias peserta yang datang mengikuti kelas mempunyai keinginan belajar yang cukup tinggi. Sementara peserta yang belum cukup serius seringkali mempunyai absensi keterlambatan atau ketidakhadiran di kelas yang jauh lebih besar dari peserta lainnya. Untuk persoalan semacam ini biasanya kami menjadikannya sebagai bahan evaluasi untuk keberlanjutan program di tahun berikutnya.

 

Batch III

Kelas ini dibuka sejak September 2021 dan berakhir di Desember 2021. Sebanyak sepuluh peserta mengikuti kelas ini. Hanya saja seiring berjalan jumlah peserta menjadi berkurang hingga tersisa delapan di akhir periode kelas. Umumnya, peserta yang tersisa di Batch III ini rata-rata mereka yang telah melalui kelas pendampingan selama periode sebelumnya (Batch I dan II) sehingga mereka tidak terlalu sulit dalam menangkap materi yang diberikan oleh Trainer. Misal, Frederika Hendrika Yawiwa, salah satu peserta di Batch III yang mengalami perkembangan baik teori maupun praktik di Kelas Multimedia. Menurut pengakuannya, ia sebelumnya tidak mengetahui tentang bagaimana mengedit video, termasuk jenis software yang harus ia digunakan. Meski begitu, setelah ia mengikuti Kelas Komputer Batch III, ia menjadi lebih paham tentang bagaimana mengedit video. Kendala yang ia alami adalah penggunaan tools pada software yang umumnya menggunakan bahasa Inggris. Untuk Kelas Multimedia sendiri, kami membuat beberapa indikator sederhana untuk mengukur bagaimana kemampuan mereka dalam menyerap materi, antara lain :

  1. Memberi mereka tugas untuk membuat materi presentasi terkait kelas teori yang diajarkan
  2. Memberi tugas membuat short video, kemudian dipublikasikan di akun sosial media pribadi dan mentionPapua Mandiri Sentosa Foundation

Selain Frederika, Januarius Baweng adalah peserta Batch III yang dalam perjalanannya banyak menunjukan peningkatan di Kelas Multimedia dan MS.Office. Ia adalah salah satu mahasiswa asal Kabupaten Boven Digoel yang kini sedang menempuh studi akhir di Universitas Musamus, Merauke. Sebagai mahasiswa tingkat akhir, Januarius mengaku bahwa dirinya merasa sangat terbantu dengan adanya kelas MS.Office ini.

 

 Kelas Reguler

Kelas reguler dibuka dengan maksud untuk memberikan pendampingan intensif dan sejumlah materi tambahan bagi peserta agar benar-benar siap saat memasuki dunia kerja. Kelas ini satu-satunya kelas yang kami buka di penghujung tahun dengan mekanisme berbayar. Kelas yang dibuka antara lain; Ms.Office, Desain Grafis, Video Editing dan AutoCAD. Kami menyadari bahwa perbedaan latar belakang ekonomi tiap peserta kerap kali menjadi kendala tersendiri sehingga untuk melakukan registrasi kami membuat skema cicilan selama periode kelas berlangsung. Di penghujung kelas nanti para peserta harus menyelesaikan sisa pembayaran untuk mendapatkan sertifikat dari Lembaga Pelatihan Keterampilan (LPK) Papua Mandiri Sentosa. Meski begitu, hampir sebagian peserta yang terlibat dalam kelas ini adalah mereka yang notabene mendapat bantuan studi pemerintah seperti Bidik Misi, KIP dan bantuan studi pemerintah daerah (beasiswa Pemda) melalui cash transfer yang langsung ke rekening mahasiswa. Ini Artinya mahasiswa bersangkutan memiliki otonomi penuh untuk mengatur kebermanfaatan uang itu sendiri. Sayangnya, berdasarkan pengalaman, kami menemukan bahwa bantuan studi yang sudah diberikan kerap kali tidak dibarengi dengan kemampuan manajemen uang yang baik dari kawan-kawan mahasiswa sehingga biasanya di periode minggu kedua atau ketiga sudah habis terpakai untuk kebutuhan non-Sekolah/Kampus. Misalnya, laptop yang seharusnya telah menjadi kebutuhan utama untuk mendukung aktivitas perkuliahan justru tidak dibeli sehingga mereka biasanya menggunakan laptop teman atau Lab LPK Papua mandiri meski di hari libur.

Meskipun tidak semua, kendala lain yang kami temui di lapangan adalah kurangnya rasa ingin tahu (curiosity) yang kuat dari ketiga belas peserta kelas reguler. Hal ini bisa dibuktikan dengan melihat persentase kehadiran mereka di kelas. Misal, keterlambatan dan ketidakhadiran tanpa keterangan yang jelas adalah hal yang kerap masih kami temui. Padahal, Kelas Reguler adalah satu-satunya kelas berbayar sehingga mereka mestinya lebih merasa bertanggung jawab dan rugi jika tidak mengikuti kelas tersebut.

 

Hasil Evaluasi

Kami melakukan evaluasi secara paralel. Pertama, kami mengundang Trainer untuk berdiskusi dengan kami.  Di hari berikutnya kami melakukan diskusi secara terpisah dengan peserta. Dari hasil evaluasi tersebut, kami menemukan beberapa poin penting yang perlu dicatat. (raw data dalam bentuk Excell terlampir).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *