Survey Awal Komunitas Asmat Di Merauke (2020)
PAPUA MANDIRI – Saat ini, terdapat 12 titik pemukiman komunitas Asmat yang tersebar di Kota Merauke, Papua. Dari 12 titik itu, salah satunya adalah komunitas Asmaro yang bermukim di belakang Stadion Mini Maro, Merauke. Hampir 100 kepala keluarga (KK) dari komunitas Asmaro sejak puluhan tahun telah mendiami pemukiman tak layak huni di Kota Merauke. Hal itu diperparah dengan kondisi sanitasi yang buruk dan pola hidup destruktif (tidak sehat). Bukan tanpa alasan mereka bermukim di sana. Kondisi sosial, ekonomi dan budaya juga ikut andil dalam mempengaruhi bagaimana komunitas Asmaro ini harus bertahan hidup sebagai ‘indigenous people’ di tengah-tengah mayoritas komunitas urban Merauke. Mereka (komunitas Asmaro) adalah komunitas yang jauh dari ‘sentuhan’ pembangunan, termasuk pendidikan yang layak dan ramah anak. Padahal, kemajuan sumber daya manusia (SDM) adalah kunci dalam menghadapi perubahan zaman yang kian menuntut ragam keterampilan.
Secara kultural (adat), komunitas Asmaro masih dikategorikan sebagai masyarakat peramu, di mana aktivitas ekonomi mereka sendiri masih bergantung pada alam. Salah satu penanda praktik ekonomi masyarakat peramu adalah dengan mengumpulkan dan mengkonsumsi apa yang telah disediakan oleh alam untuk kebutuhan harian. Tidak lebih dari itu. Sementara praktik ekonomi masyarakat urban Merauke relatif lebih modern serta menuntut profesionalitas dengan spesifikasi/kualifikasi tertentu. Kondisi ini, paling tidak, bisa memberi semacam gambaran untuk membayangkan bagaimana posisi komunitas Asmaro ini pada level ekonomi skala kecil-konvensional.
Praktik meramu ini, selanjutnya, secara kultural diterjemahkan oleh mereka ke dalam aktivitas memulung (misal, barang bekas atau rongsokan) yang berserakan di Kota Merauke-sebagai konsekuensi gaya hidup masyarakat urban Merauke yang kurang sadar lingkungan. Bagi mereka, jika tidak memulung artinya tidak makan. Mereka mampu mengerjakan apa yang ada di depan mata sejauh itu mempunyai nilai jual atau sekadar dapat dikonversi menjadi kebutuhan pangan sehari-sehari seperti beras, supermi, telur, gula-kopi dan seterusnya. Seperti orang Papua (yang hidup di Kampung/Dusun) pada umumnya yang menggantungkan hidup pada alam, begitu pula komunitas Asmaro. Alam tentu saja di satu sisi memberikan keistimewaan terhadap komunitas Asmaro sendiri, namun di lain sisi komunitas Asmaro menjadi lamban dan kurang kreatif ketika terpaksa harus hidup berdampingan dengan komunitas serta gaya hidup urban di Merauke.
Tak hanya itu, angka kelahiran yang tidak sebanding dengan pendapatan rata-rata per KK orang tua juga telah ‘mengorbankan’ masa depan anak-anak Asmaro untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Situasi inilah yang pada gilirannya seolah ‘memaksa’ anak-anak usia sekolah di Asmaro untuk memilih tidak atau putus sekolah agar dapat membantu orang tua mereka mencari uang guna mencukupi kebutuhan makan-minum sehari-hari.
Berangkat dari situasi itu, maka pendidikan adalah kunci dalam menerobos ketertinggalan termasuk dalam perkara literasi dasar yang berkenaan dengan aktivitas baca, tulis dan hitung (CALISTUNG). Untuk itulah program pendampingan bagi anak-anak Asmaro di Merauke menjadi fokus utama kami. Selama setahun berjalan, pendampingan bagi anak-anak Asmaro relatif cukup baik dan menunjukan peningkatan meskipun semula terdapat sejumlah kendala. Kendala-kendala itu, bagi kami, masih dalam kondisi wajar. Sebab itu, pertama-tama yang kami lakukan adalah melakukan pendataan, sosialisasi dan kemudian memberikan program pendampingan pendidikan jangka panjang bagi anak-anak usia dini (TK-PAUD).
Sesuai visi kami; membangun generasi emas Papua di tahun 2050, maka pendampingan pendidikan usia dini bagi anak-anak Asmaro adalah hal mutlak yang mesti dipersiapkan secara berjenjang dan berkelanjutan. Pendidikan bagi anak-anak Asmaro adalah problem mata rantai yang mesti diselesaikan untuk mempersiapkan generasi emas Papua yang siap kerja, yang nantinya akan mengisi pembangunan Papua ke depan, khususnya di selatan Papua-Merauke. Menurut Bunda Vero, koordinator pengajar anak di Asmaro, menuturkan bahwa “anak-anak seringkali mengikuti orang tua mereka untuk mencari makan sehingga anak-anak ini tidak punya waktu untuk belajar”. Ia menambahkan, “meski begitu, saat ini dengan program pendampingan yang diberikan Papua Mandiri Sentosa paling tidak sudah bisa memberi mereka kesempatan untuk belajar demi meraih mimpi-mimpinya”.
Seiring berjalan waktu, antusias anak-anak Asmaro untuk belajar makin besar. Tentu saja ini tidak terlepas dari peran serta orang tua murid, para bunda pendamping dan semua pihak yang sudah terlibat baik langsung maupun tidak. Kami meyakini bahwa anak-anak dampingan kami akan terus tumbuh selama mendapat wadah dan metode yang tepat dalam proses belajar-mengajar. Untuk itu, kami tidak berhenti pada proses belajar saja, tapi kami berupaya agar anak-anak dampingan kami bisa memperoleh ijazah TK-PAUD saat selesai sehingga mereka dapat melanjutkan ke jenjang selanjutnya (SD, SMP, SMA/SMK dan seterusnya) hingga Perguruan Tinggi kelak.
Belum genap dua tahun, kami telah bekerja sama dengan Yayasan Nusa Iriani yang memiliki sekolah TK Sinar Kasih Harapan Bangsa agar anak-anak kami bisa bersekolah di sana. Sekolah ini telah menampung anak-anak dampingan kami yang angkatan pertama. Di samping itu kami berharap agar anak-anak dampingan kami ini nantinya mempunyai semacam tempat tinggal tetap (asrama) yang terintegrasi dengan sekolah (saat ini dalam tahap penyelesaian). Sebagaimana dijelaskan Bunda Vero, Koordinator Pengajar, bahwa “di samping antusias dan semangat anak-anak yang terus tumbuh, kami tidak ingin untuk mereka kembali ke lingkungan mereka lagi. Mereka ini harus benar-benar mempunyai wadah atau lingkungan yang nantinya bisa kami kontrol proses belajar, jasmani dan rohani mereka. Jika mereka dibiarkan kembali ke lingkungannya yang semula, mereka justru akan terpengaruh oleh lingkungannya dan tidak bisa kembali untuk mengikuti proses belajar lagi”.


Om Edo dan Tim Hebat. Sukses selalu dalam kerja² nyata membuat perubahan untuk anak² generasi Papua ke depan.
Terima kasih kak Wanto…