John Gobai : Menjadi Edupreneur Sebagai Pilihan Hidup (Papuapreneur Talkshow Eps. 2)

PAPUA MANDIRI – Setelah sukses menggelar Papuapreneur Talkshow perdana di Juli lalu, Papua Mandiri kembali menggelar acara serupa pada Selasa 6 September 2022. Di episode kali ini, Papuapreneur Talk menghadirkan John Alezander Gobai, M.Sc. sebagai narasumber tunggal.

John Gobai adalah salah satu anak muda Papua yang berkesempatan berkuliah di luar negeri, tepatnya di Saint Pettersburg University of Rusia dari tahun 2014 – 2017. Sekembalinya dari Rusia, ia memutuskan untuk melanjutkan impiannya sebagai tenaga pendidik di Papua. Seiring waktu berjalan, ia menyadari bahwa persoalan utama ada pada tenaga pendidiknya. Untuk itu, ia kemudian menyusun rencana selanjutnya yang lebih berfokus pada para guru. Di bawah Yayasan Pusat Sains Papua (YPSP) yang dibentuknya tiga tahun lalu, ia berkeliling Papua untuk membagi pengetahuan dan metode pengajarannya kepada para guru. Saat ini, ia bersama timnya sedang menjajaki peluang kerjasama dengan salah satu perguruan tinggi negeri di Meraukke yang bertujuan untuk peningkatan kapasitas tenaga didik.

Dengan mengambil tema Pendidikan sebagai Investasi terbaik, John Gobai mulai bercerita alasan utama ia memilih jalan hidup sebagai seorang Edupreneur. “Saya tergerak menjadi trainer di bidang pendidikan dengan melihat kenyataan bahwa masalah pendidikan kita sebenarnya sudah dimulai sejak usia TK/PAUD. Mulai dari latar belakang kualitas tenaga pendidik, metode pengajaran, kurikulum hingga fasilitas pembelajaran yang minim. Intinya kita punya masalah di sistem pendidikan kita”, jelas Ayah dua anak ini. Ia kemudian membandingkan sistem pendidikan di Rusia yang sempat ia nikmati selama melanjutkan studi S2. “Di Rusia sistem yang mengikuti minat anak, bukan sebaliknya. Jadi, anak diberi kebebasan untuk menjadi apa saja yang ia mau dan sistem yang mesti menyesuaikan”, tambah suami Julia Moiwend, seorang perempuan berdarah Malind yang pernah menjadi pramugari salah satu maskapai di Indonesia.

Perbincangan semakin menarik sewaktu John menceritakan kisah hidupnya yang berjuang menempuh lika-liku pendidikan yang penuh dengan tantangan dan cobaan. Sempat hampir putus asa karena tidak memiliki biaya untuk studi S1 di salah satu perguruan tinggi negeri di Jawa Barat hingga pernah sakit parah pada saat studi s2 di Rusia. Tidak hanya itu saja, ia bahkan hampir putus asa ketika di saat tertentu ia seperti kehilangan keyakinan apakah ia harus melanjutkan perjuangannya sebagai seorang Edupreneur atau tidak.

Seusai menceritakan perjalanan studi dan karirnya hingga menjadi seorang Edupreneur, selanjutnya sesi diskusi dibuka dengan kesan pertama yang disampaikan Marten seorang peserta Batch 7. “Kaka John pu cerita sangat menginspirasi kami sekali terutama perjalanan pendidikan kaka John di bangku kuliah. Saya mau tanya waktu kaka John kuliah itu kaka John dapat biaya dari siapa sampai bisa sekolah di luar negeri?”, tanya Marten dengan penuh rasa ingin tahu. John yang sedari tadi memperhatikan bagaimana Marten dengan penuh antusias menyimak cerita mengenai perjalanan studinya langsung menjawab.”Saya kuliah S1 waktu itu tidak ada biaya karena uang masuk mahal sekali. Saya punya keluarga dari ekonomi yang biasa-biasa saja. Tapi saya tidak patah semangat. Saya terus berusaha cari jalan ke sana – kemari dan akhirnya ada seorang Bapak yang baik hati. Dia kaya sekali. Dia bilang John saya akan biayai studi kamu, tapi IP mu harus 3,5. Kalau tidak beasiswanya putus.  Dalam hati wah ini standar yang tinggi sekali. Tapi dari situ memacu saya untuk serius belajar, disiplin hingga akhirnya bisa lulus 3 tahun 5 bulan. Sebenarnya bisa lulus 3 tahun tapi dosen pembimbing saya pada saat itu sering berangkat ke luar negeri.” jelas John.

Diskusi semakin menarik ketika giliran kaka Yune pendiri Sekolah Alam Papua Paradise mengomentari cerita kaka John. “Saya setuju bahwa salah satu persoalan pendidikan di Papua terletak pada tenaga pendidiknya. Untuk itu, saya berharap kita bisa berkolaborasi melakukan ToT (Training of Trainer) khususnya kurikulum Sekolah Alam kami agar metode yang dipakai bisa lebih beragam dan kreatif”, harap Yune. Yune juga sempat menyinggung mengenai tantangan untuk meningkatkan minat baca di kalangan anak muda Papua khususnya yang ada di Merauke. John menimpalinya dengan menyatakan bahwa memupuk minat baca memang harus dimulai dari usia dini. “Masalah kita adalah kita tidak terbiasa dengan riset. Misalkan kenapa daun berwarna hijau? Nah, untuk mengetahui mengapa daun berwarna hijau kita harus melakukan riset. Dan langkah pertama melakukan riset adalah dengan membaca riset-riset sebelumnya yang pernah meneliti tentang daun. Budaya riset membuat rasa ingin tahu menjadi tinggi dan itu akan meningkatkan minat baca kita”, papar John dengan singkat.

Beberapa peserta lain seperti Abraham dari Batch 7 juga sempat melontarkan pertanyaan seputar motivasi John memilih menjadi seorang Edupreneur. “Yah, kalau bukan kita siapa lagi”, jawabnya sambil tersenyum.

Papuapreneur Talk Episode 2 berlangsung selama kurang lebih dua jam di halaman belakang gedung LPK Papua Mandiri. Ada sekitar 20an audiens yang hadir. Sebagian besar merupakan peserta Batch 7. Sisanya merupakan rekan komunitas yang ada di kota Merauke. Seperti biasa, acara ditutup dengan foto bersama.

One thought on “John Gobai : Menjadi Edupreneur Sebagai Pilihan Hidup (Papuapreneur Talkshow Eps. 2)

  • September 12, 2022 pada 6:25 am
    Permalink

    Luar biasa sekali talenta yg tumbuh subur yg tidak dikubur namun di angkat utk mengangkat org lain sukses terus

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *